Hubungi Kami: 0741-66269 | E-mail: diskominfo@jambiprov.go.id

WAGUB: PROVINSI JAMBI MEMPOSISIKAN DIRI MASUK BAGIAN POROS MARITIM

Wakil Gubernur (Wagub) Jambi, Dr. Drs. H. Fachrori Umar, M.Hum mengemukakan bahwa Provinsi Jambi memposisikan diri masuk dalam bagian poros maritim. Hal tersebut disampaikan oleh Wagub dalam Pembukaan Forum Ekonomi dan Keuangan Daerah Provinsi Jambi, bertempat di Hotel Aston, Kota Jambi, Selasa (5/4).

Acara yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Jambi ini mengusung tema “Menuju Perekonomian Jambi yang Lebih Baik.”

Untuk memposisikan diri masuk dalam bagian poros maritim, Wagub menyatakan, Pemerintah Provinsi Jambi bekerjasama dengan seluruh instansi dan pihak terkait, berupaya melakukan pengembangan Pelabuhan Muara sabak, Kuala Tungkal, Nipah Panjang, Talang Duku, dan Pelabuhan Ujung Jabung, sebagai simpul-simpul maritim Provinsi Jambi.

Fachrori Umar mengatakan, pengembangan pelabuhan-pelabuhan di Provinsi Jambi sangat penting mengingat masih besarnya ekspor Provinsi Jambi yang keluar dari pelabuhan tetangga Provinsi Jambi, yang mengakibatkan nilai tambah dari produksi Provinsi Jambi mengalir keluar Provinsi Jambi.

Fachrori Umar mengemukakan, kebijakan Pemerintah Provinsi Jambi memposisikan diri mauk bagian poros maritim cukup beralasan, baik secara historis maupun geo strategis.

Fachrori Umar menjelaskan, letak geografis Provinsi Jambi yang sangat strategis dan menghadap ke Laut Cina Selatan, dan saat ini 70% total perdagangan dunia berlangsung dinegara-negara Asia Pasifik, serta 75% perdagangan di wilayah Asia Pasifik menggunakan transportasi laut, dan 45% diantaranya melewati alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). “Provinsi Jabi yang dilewati ALKI 1 serta Sea Lane of Communication menjadi sangat memungkinkan untuk dikembangkan,” ujar Fachrori Umar.

Selain itu, Wagub menyoroti kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Provinsi Jambi, terutama yang terjadi pada tahun 2015, yang sangat mengaanggu dan berdampak negatif terhadap perekonomian Provinsi Jambi. “Kejadian kebakaran hutan dan lahan tahun 2015 menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua. Kabut asap mengganggu berbagai aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat, mulai dari tidak beroperasinya Bandara Sultan Thaha selama kurang lebih tiga bulan, sampai dengan lahan pertanin yang kekeringan hingga puso (gagal panen) mencapai 8,9 ribu hektar. Kondisi ini berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi,” ungkap Fachrori Umar.

Fachrori pun menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Jambi bersinergi dengan Forum Komunikasi Piminan Daerah (Forkopimda) Provinsi Jambi dan Pemerintah Kabupaten/Kota se Provinsi Jambi berupaya semaksimal mungkin untuk mencebah dan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan, dengan penekanan pada pencegahan (preventif) dan segera memadamkan secepat mungkin jika ada kebakaran hutan dan lahan.

Fachrori menjelaskan, salah satu upaya dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan adalah dengan mengelola lahan gambut, mengingat kebakaran yang terjadi pada tahun 2015, 74% kebakaran berada pada lahan gambut di kawasan hutan dan 81% lahan gambut diluar kawasan hutan.

“Untuk itu, kami akan merestorasi lahan gambut sebagaimana yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, dengan melakukan pembinaan dan pemberdayaan desa yang berada di lahan gambut, yang jumlahnya 237 desa. Dalam konteks ini, kita juga akan mendorong agar pendidikan lingkungan dan kesiapsiagaan bencana akan menjadi muatan local di sekolah-sekolah dan di perguuan tinggi, bahkan pengenalan lingkungan dan kesiapsiagaan bencana ini juga mulai diperkenalkan pada anak usia dini,” jelas Fachrori Umar.

0 Komentar

Komentar Anda

Reply to the post


Visual CAPTCHA Masukkan kode validasi

Untuk masalah keamanan, kami akan menyimpan alamat IP Komputer anda