Hubungi Kami: 0741-66269 | E-mail: diskominfo@jambiprov.go.id

PROXY WAR ADALAH SALAH SATU PENYEBAB RETAKNYA KEBERSAMAAN DAN KEBERAGAMAN

Gubernur Jambi H. Zumi Zola, S.TP, MA diwakili oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jambi Ir. Nurachmat Herlambang, MMA menghadiri acara Dialog Publik RRI Jambi dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda pada Jum’at (27/10) bertempat di Auditorium RRI Jambi.

Herlambang yang mewakili Gubernur, didaulat untuk menjadi narasumber bersama dengan 3 orang lainnya, diantaranya yaitu : Dewan Pengawas RRI Dr. Frederick Ndolu, Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi Dr. H. Hadri Hasan serta Praktisi Budaya Lukman.

Dalam kesempatan tersebut, RRI mengangkat tema : “Memaknai Kebersamaan dan Keberagaman Jambi”

Herlambang mengatakan bahwa seluruh masyarakat Jambi harus bersyukur karena banyaknya suku,etnis dan budaya yang ada di Jambi tidak mempengaruhi rasa aman dan suasana kondusif di negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah Ini, “kita mengetahui bahwa Jambi adalah salah satu provinsi yang paling aman dan kondusif di Indonesia, bahkan Jambi ini dapat kita sebut sebagai miniatur dari Indonesia,” ucapnya

Dalam dialog tersebut, Herlambang juga mengungkapkan bahwa di era digital saat ini rakyat Indonesia bukan lagi dihadapkan pada perang melawan penjajah, bahkan lebih dari itu, rakyat saat ini dihadapkan pada ancaman ideologi yang bertentangan dengan pancasila, radikalisme maupun penyusupan ekonomi. “saat ini kita dihadapkan pada proxy war, kita tidak tahu mana kawan dan mana lawan, tentu ini lebih berbahaya daripada perang secara langsung,” pungkasnya.

“Kita lihat sebagai contoh, pada saat kontestasi pilkada Gubernur Jakarta, apa yang terjadi pada Ahok, ini tentu sangat mengganggu stabilitas negara kita,” jelasnya.

“Era digital tentu saja memiliki dampak positif bagi kita semua, dimana seluruh informasi dengan mudah dapat kita terima secara cepat. Namun, bukan berarti kemajuan tersebut tidak memiliki dampak negatif, pesatnya perkembangan internet yang mengendemi hingga ke usia anak-anak tentu menjadi catatan penting bagi kita semua. Banyaknya media sosial yang menyebarkan kabar bohong (hoax) serta ujaran kebencian adalah penyebab timbulnya perpecahan dan rusaknya keberagaman dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini, untuk itu semua masyarakat harus bijak dan berhati-hati dalam meneruskan/membagikan (share) informasi yang ada di laman sosial media,” ujarnya.

Ditambahkannya bahwa “sebelum membagikan suatu berita/informasi sebaiknya dilakukan konfirmasi apakah berita tersebut benar atau hanya kabar bohong, jika kabar bohong yang di-share tentu akan berimplikasi pada kejahatan cyber crime sebagaimana yang diatur di dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Juncto Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE),” tegasnya.

Sementara itu, Rektor UIN STS Jambi Hadri Hasan dalam dialog tersebut mengungkapkan bahwa merawat keberagaman itu tidaklah sulit, karena kita (Jambi) telah teruji dengan datangnya para penduduk yang memiliki etnis dan suku beragam, misalnya : Sunda, Jawa, Minang, Batak, Banjar dan sebagainya. “ini menunjukkan bahwa Jambi telah teruji dalam memupuk rasa kebersamaan dan merajut keberagaman, tentu keberagaman ini juga adalah rahmat dari Allah SWT untuk kita jaga bersama, karena keberagaman itu sebenarnya indah. Mudah-mudahan dengan merawatnya dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan kita bersama,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Dewan Pengawas RRI Dr. Frederick Ndolu menyatakan bahwa tujuan RRI yaitu sebagai wadah untuk mencerdaskan bangsa, kita bisa lihat sejak diproklamirkannya teks Proklamasi, RRI sudah menjadi wadah bagi kontribusi kemerdekaan Indonesia. Bahkan hingga saat ini RRI terus berupaya dalam mencerdaskan bangsa melalui siaran-siarannya, “kita juga banyak siaran yang menggunakan bahasa daerah, tentu ini menunjukkan betapa kita merawat kebersamaan dan keberagaman dalam bingkai NKRI,” ucapnya.

Senada dengan narasumber lain, Lukman selaku Praktisi Budaya menyatakan bahwa “Jambi tidak perlu lagi diuji mengenai kebersamaan dan keberagamannya karena sudah sejak dulu masyarakat Jambi telah berdampingan bersama-sama. Kita ambil contoh : bagaimana hubungan antara Putri Pinang Masak (suku Minang Kabau) dan Paduko Datuk Berhalo (suku Jambi) dimana keduanya berbeda budaya namun bisa berdampingan satu sama lain sebagai sepasang suami istri. Kita juga memiliki cerita tentang Si Pahit Lidah, dan ini tidak hanya di Jambi, cerita ini juga ada di Sumatera Selatan serta Bengkulu. Nah, ini tentu menunjukkan dari keberagaman memiliki kesamaan,” ungkapnya.

Turut hadir pada acara tersebut, para Mahasiswa, unsur OPD di lingkup pemerintah Provinsi Jambi serta insan Pers.

Dalam kesempatan tersebut juga dimeriahkan dengan penampilan dari suku NTT yang membawakan sebuah alunan lagu dengan menggunakan  alat musik tradisional bernama Kecapi/Gambus dari Adonara/Flores Timur.  

0 Komentar

Komentar Anda

Reply to the post


Visual CAPTCHA Masukkan kode validasi

Untuk masalah keamanan, kami akan menyimpan alamat IP Komputer anda